Sabtu, 13 Februari 2010

Mengkaji Perang Fisik


Perang merupakan bentuk kontak fisik antara beberapa kubu/ golongan/ kelompok atas dasar ketidak cocokan atau pertikaian. Perang bisa disebabkan karena perselisihan wilayah, SARA, perebutan kekuasaan, perebutan harta, dan hal lain yang bersifat material maupun non material. Seperti halnya perang kemerdekaan yang bertujuan untuk merebutkan kemerdekaan bangsa. Perang kemerdekaan disebabkan karena colonial atau penjajahan dari bangsa lain yang masuk dan merebut kekuasaan dari bangsa tersebut. perang kemerdekaan yang dilakukan bangsa Indonesia melawan Belanda pada tahun 1945 merupakan suatu kekuatan perlawanan yang terbendung dari tahun ke tahun yang terpusat untuk mencapai tujuan kemerdekaan.
Nabi Muhammad dalam memperjuangkan Islam juga mengadakan perang. Beberapa perang tersebut antara lain: perang Badar melawan Abu Sofyan, perang Khandak melawan orang-orang kafir, perang Uhud melawan tentara Khalid.
Akhir dari perang adalah kemenangan atau kekalahan. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa perang juga melahirkan sebuah kesepakatan damai antara pihak yang berseteru. Dengan kata lain win-win solution.
Perang berdampak sangat ironis pada kubu yang bersangkutan. Dampak politik, ekonomi, social merupakan hal-hal yang tidak bisa dipisahkan dari adanya peperangan. Terlebih lagi dampak social yang menyangkut tentang kejiwan seseorang. Entah itu kehilangan saudara maupun dampak psikologis atau trauma terhadap peperangan. Tentu saja bagi kubu yang kalah dalam peperangan dia harus membangun kekuatan dari awal lagi untuk sebuah benteng kekuatan. Atau jika tidak wilayah dari kubu yang kalah akan direbut oleh yang menang. Akhirnya tidak ada lagi kekuatan yang bisa dibangun kecuali membangun kekuatan dari bawah (underground power).
underground power bukan dikategorikan ke dalam perang fisik tapi jenis perang ini lebih seperti menikam dari belakang. Bisa melemahkan dari tepi kekuatan lama kelamaan menusuk ke jantung pertahanan.
Apa saja yang diperlukan dalam peperangan?
Perang tidak semata-mata tidak memerlukan persiapan. Perang juga harus memperhitungkan beberapa aspek yang mempengaruhi kemenangan perang. Apalagi perang secara langsung atau perang fisik. Persiapan dari dalam maupun dari luar perlu dipikirkan matang-matang sebelum berani mengatakan “ya” untuk perang. Menyerang, mundur dan bertahan merupakan langkah yang biasa yang diajukan dan harus dikakukan secara cepat. Menyerang untuk menghancurkan musuh, mundur supaya tidak dihancurkan musuh (Tan Malaka: 1948) dan bertahan ketika diserang musuh.
Apa yang kita punya?
Untuk persiapan perang harus mengetahui apa yang kita punya. Dalam artian apa yang kita punyai untuk mengadakan perang melawan musuh. Entah itu dari segi material maupun abstrak. Material bisa berupa pasukan, intelectual strategic (pemikir strategi), alat untuk berperang, markas (tempat perlindungan), harta, teknologi, dll. Dan komponen abstrak antara lain dukungan dari orang lain, kemampuan berperang pasukan.
Apa yang bisa kita lakukan?
Dengan yang tersebut diatas tentu langkah selanjutnya adalah apa yang kita bisa lakukan dengan barang-barang itu. Saat perang kita harus tahu terlebih dahulu kemampuan fisik yang bisa kita lakukan dengan apa yang kita punya. Karena itulah senjata yang digunakan saat melawan musuh. Akan lucu ketika kita mempunyai senjata bagus tapi tidak bisa mengguanakannya. Maka dari itu kita harus tahu secara mendetail peralatan perang yang akan digunakan.

Siapa kita dan Dengan siapa kita berhadapan?

Mengetahui seluk beluk lawan juga penting sebelum berperang. Hal ini untuk mengetahui Kekuatan dan kelemahan lawan, dan Kekuatan dan kelemahan kita. Jika kelemahan lawan sudah dideteksi maka dengan cepat seperti kilat langsung hantam menuju jantung kekuatan. Tidak hanya itu tapi keadaan ekonomi, politik dan social lawan perlu dianalisa. Penembusan jantung tidak semata-mata lewat jalan fisik. Namun pematahan jalur pol-ek-sos juga bisa menghambat kekuatan lawan. Sehingga akan lebih mudah untuk menyerang.
Analisa lain adalah bagaimana kedudukan lawan dengan kedudukan kita dimata asing? maksud hal ini adalah siapa backingan lawan dibalik peperangan tersebut. jika itu memperkuat tunggu dulu. Harus ada backingan yang kuat pula dari kita untuk sama-sama maju.
Potensi apa yang bisa kita dapatkan untuk mendukung peperangan?
Dari poin ini sudah sebagian dibahas diatas. Potensi yang mendukung kekuatan kita merujuk kepada pihak asing yang menjadi penyokong atau buffer peperangan. Bisa juga potensi atas alam dan manusia bukan milik kita ataupun musuh tapi diluar dari itu.
Apa yang dipunyai lawan?
Seperti pembahasan diatas, kita juga harus mengetahui apa yang lawan punya. Hal ini lebih kepada seluk-beluk peralatan perang lawan dan apa yang dilakukan lawan (dalam hal ini adalah taktik). Sistem percaturan strategi dan analisa terhadap gerakan lawan merupakan pemikiran sebelum melakukan langkah apa yang akan diambil. Gerakan cepat dan agresif dalam menentukan tindakan namun tidak gegabah merupakan prinsip yang harus dipegang oleh intellectual strategic.
Antara defense dan offense
Kapan kita bertahan dan kapan kita menyerang? Jika hal-hal diatas sudah dikumpulkan maka bisa kita melakukan tindakan untuk bertahan atau menyerang. Bertahan ketika pasukan musuh lebih kuat dan pasukan penyerang kita. Tapi dalam hal ini perpusatan pertahanan harus dicover terhadap lini kelemahan dari tembok yang membentengi kekuatan kita. Hal tersebut dimaksudkan agar benteng yang lemah tidak dapat ditembus oleh kekuatan lawan.
Pemusatan penyerangan langsung menuju lini lemah musuh. Hal ini bisa mengefektifkan penyerangan. Atau bisa juga penyerangan ke dalam pertahanan yang terkuat atau pertahanan inti musuh. Ketika pertahanan inti sudah lemah maka akan sulit musuh untuk mengalihkan metode perang, karena membutuhkan persiapan yang lama lagi dan tidak ada waktu lagi ketika dalam keadaan seperti itu.
Ada juga dengan taktik umpan. Yaitu memberi umpan agar lawan menyerang terlebih dahulu ketika pertahanan dalam lawan kosong maka akan dengan mudah penyerang kita masuk dan menghancurkan benteng pertahanan lawan yang lemah. Bisa juga setelah umpan ditanam dan lawan menyerang kita perkuat pertahanan untuk menyerang musuh agar pasukan lawan berkurang dan melemah setelah itu alihkan metode bertahan menjadi menyerang ke pertahanan musuh yang kosong karena kelemahan pertahanan.

sumber: http://andytri.wordpress.com/

Label:

0 Komentar:

Poskan Komentar

Ketikkan saran dan komentar anda. Walaupun singkat tetapi saran dan komentar yang anda berikan sangat berarti buat blog ini. Silahkan beri Komentar anda dengan mengisi boxs dibawah ini. Jika tidak mempunyai Akun, pilih ANONIM/ANONYMOUS. Terima Kasih Banyak Telah Mengunjungi Blog ini.

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda